Sejarah Desa

PENDIRI DESA CEPOKOMULYO

Desa Cepokomulyo dibikin (bubak=babad alas) oleh Mbah Kontar atau para sesepuh memanggilnya KEK KONTAR (nama asli masih dalam pencarian) sekitar tahun 1629 M.

Tahun 1629 M diambil data dari sejarah perang Kaladuta I yang dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso, sebab kemungkinan besar Mbah Kontar ini salah satu dari ribuan pasukan yang ikut perang Kaladuta I. Sedang perang kaladuta I terjadi pada tahun 1628 M.

Tumenggung Bahurekso diangkat sebagai Panglima Perang Mataram pada tanggal 26 Agustus 1628 untuk memimpin puluhan ribu prajurit menyerbu VOC di Batavia. Pada pertempuran tanggal 21 Oktober 1628 di Batavia Tumenggung Bahurekso beserta ke dua putranya gugur sebagai Kusuma Bangsa.

Setelah kekalahan itu sisa pasukan tidak kembali ke Mataram,sebagian mencari dan membuat pemukiman baru, seperti Ki Ageng Purbonegoro yang membuat pemukiman (desa) Sojomerto,Tumenggung Begananda Membuat Desa Gemuh, dll.

Penyebaran sisa pasukan ini kemungkinan besar terjadi pada tahun 1629 M. Kalau dihitung dari tahun ini, maka Desa Cepokomulyo dibubak/dibabad pada tahun 1629 M. Saat ini tahun 2014 usia Desa Cepokomulyo sudah 385 Tahun. (Kabupaten Kendal sendiri sekarang sudah 409 tahun).

SIAPAKAH KEK KONTAR ITU?

Dari beberapa sesepuh Desa Cepokomulyo tidak ada yang tahu siapa sebenarnya nama Mbah Kontar atau Kek Kontar. Namun disini perlu digaris bawahi, beliau ini salah satu pasukan, bahkan kemungkinan besar beliau ini termasuk salah satu petinggi Mataram, mengingat para pendiri Desa-desa tetangga adalah mantan-mantan petinggi pasukan Mataram.

Para sesepuh di Cepokomulyo hanya menuturkan beliau ini berasal dari Keraton Solo. Sebagaimana kita ketahui Keraton Solo berasal dari Kerajaan Mataram Islam.

Setelah membubarkan diri paska pertemuan pembesar dan tokoh-tokoh Mataram kedua di Kemangi, sisa-sisa pasukan ini melucuti diri, ada yang melepas semua atribut keprajuritan secara total, hingga nama aslinya pun tidak pernah dipakai lagi.

Kenapa demikian?

Simpel saja, seperti diketahui pihak VOC masih mengejar sisa-sisa pasukan Mataram. Lagi pula bisa dimaklumi, ada sebagian orang yang sekali bilang mau mundur dari duania keprajuritan, artinya ia akan meninggalkannya secara total. Ia akan meninggalkan semua urusan politik.

Kondisi ini tergambar jelas dari cerita tutur para sesepuh, bahwa Kek Kontar selama hidupnya hanya menjani hidup sebagai petani biasa.

SIAPAKAH MBAH SOKERTO?

Karena sudah berniat meninggalkan semua urusan politik dan pemerintahan disaat pemukiman baru sudah mulai banyak penduduknya, pihak pemerintah Kendal yang masih masuk wilayah Mataram memanggil tokoh Desa Cepokomulyo untuk menghadiri pasowanan di Kabupaten.

Untuk itu Kek Kontar membutuhkan orang yang bisa diandalkan untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan Kerajaan atau mengurusi segala urusan keluar, beliau hanya mau mengurusi urusan didalam pemukiman saja.

Maka dipilihlah Kek Sokerto, menurut cerita tutur Kek Sokerto ini masih kerabat Kek Kontar sendiri, ada yang bilang beliau ini masih keponakannya. Ada juga yang meyakini Kek Sokerto ini adalah seorang Linuwih, pendekar pilih tanding yang sengaja diminta oleh Kek Kontar untuk menetap di Desa Cepokomulyo. Wallahu a’lam.

Oleh sebab itu wajarlah Kek Sokerto lebih dikenal oleh khalayak ramai ketimbang kek Kontar, selain karena Kek sokerto yang bertugas urusan luar, memang sudah menjadi tekad bulat Kek Kontar untuk “menyendiri”, menghilangkan identitas aslinya.

Namun bagi anak-cucunya silsilah keturunannya sebagian masih terpelihara dengan baik, meskipun mungkin masih banyak yang hilang. Pada bagian akhir nanti akan disertakan daftar anak-cucu keturunan Kek Kontar.

WASIAT KEK KONTAR

Sebelum meninggal beliau berwasiat, agar dimakamkan sesederhana mungkin, beliau juga sudah mempersiapkan batu nisannya sendiri dari 2 buah batu gunung yang sangat sederhana.

Beliau dimakamkan diarea pemakaman umum Desa Cepokomulyo, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui letak makamnya.

Beliau juga berpesan agar anak-cucunya jangan sampai menjadikan makamnya sebagaimana makam-makam tokoh pada umumnya, karena beliau kwatir akan merusak aqidahnya.

Namun sebagai anak-cucu khususnya dan masyarakat Cepokomulyo pada umumnya tidak salah kalau kita menziarah dan mendo’akan beliau. Tidak harus dengan acara-acara yang mewah, tidak harus ada jamuan, cukuplah ziarah dan mendo’akannya bersama-sama.

KEK KONTAR APAKAH SEORANG MUSLIM?

Masih banyak yang menganggap beliau ini bukan muslim melainkan hindu. Entah atas dasar apa pendapat ini? Pendapat ini sangat mudah sekali ditepis. Coba kita baca ulang, beliau ini salah satu pasukan Mataram Islam, yang saat itu raja yang berkuasa adalah Sultan Agung, cucu dari Senopati, raja pertama Mataram Islam.

Baca juga wasiat beliau yang sangat memperhatikan aqidah anak-cucunya, wasiat seperti ini hanya keluar dari seorang Muslim ta’at yang zuhud dan berhati-hati.

Hampir sebagian besar pembesar-pembesar Mataram yang mengasingkan diri membuka pemukiman baru, dengan membabad alas, beliau-beliau ini disamping punya kesaktian juga memiliki derajat yang tinggi disisi Alloh SWT.

Coba baca sejarah para pembesar yang hadir di Paseban Kemangi, hampir semuanya termasuk waliyulloh.

Penulis juga disamping istikharah sendiri juga meminta bantuan beberapa Kyai, untuk menelusuri jati diri Kek Kontar dengan memohon petunjuk dari Alloh SWT. Hasilnya beliau memang seorang Muslim.

ASAL-USUL NAMA CEPOKOMULYO

Cerita Pertama

Nama cepokomulyo masih terkait dengan tokoh Tumenggung Begananda, Kyai Perbuan, Raden Gangsal, Pangeran Sojomerto.

Kyai Perbuan mempunyai anak laki-laki bernama Raden Gangsal yang sudah direncanakan menikah dengan anak perempuannya Pangeran Sojomerto.

Di hari yang sudah direncanakan Raden Gangsal beserta rombongan datang ke Sojomerto dalam acara serah-serahan temanten pria. Ditengah perjalanan dicegat oleh Begananda, barang-barang bawaan direbut, kemudian tempat itu dikenal dengan nama Pamriyan berasal dari kata “pamrih barang liyan”. Kemudian barang rampasannya dibawa dipindahkan disuatu tempat, dikemudian hari tempat itu dinamakan Galih, berasal dari kata Lih Lihan Barang atau Barang ngalih.

Raden Gangsal beserta rombongan lari kocar-kacir dikejar Begananda, tiba disuatu tempat rombongan ini bersepakat untuk tidak bersuara karena takut diketahui oleh Begananda, kepala rombongan berkata “Cep…..Cep….Cep….” yang tadinya berisik akhirnya benar-benar diam, perjalananya pun aman sampai tujuan. Dikemudian hari tempat tersebut disebut Cepokomulyo.

Secara filosufi Cepokomulyo memberikan makna, Cep artinya diam, mulyo artinya mulia, CEPOKOMULYO, mengandung makna filosofis “ UNTUK MEMPEROLEH KEMULIAAN, MAKA DIAMLAH”. Artinya diam atau istiqomah.

Diamnya rombongan Raden Gangsal membuat Begananda kehilangan jejak, karena kompaknya rombongan, maka Raden Gangsal bersyukur dan memuji rombongannya. Dalam bahasa jawa  Syukur/memuji disebut “NGALEM”. Maka tempat memuji atau Ngalem tadi dikenal dengan nama NDALEM (yakni sekarang pedukuhan masuk kelurahan Triharjo).

Cerita Kedua

Adalah perintah dari Kerajaan Mataram agar pemukiman-pemukiman baru menata diri dengan terlebih dulu mengangkat Lurah dan memberikan nama perkampungannya.

Diera Kek Kontar nama desa adalah Cepoko, nama ini adalah gabungan dari nama dua pemukiman yakni dukuh Cerme dan Poko.

Dukuh Poko

Poko diambil dari nama pohon atau sejenis tanaman obat yang berasal dari daerah Eropa dalam hal ini pihak VOC membawa dan menanamnya dibumi Nusantara dan akhirnya menyebar. Konon, diselatan pekuburan desa yang sekarang tumbuhlah beberapa tanaman poko. Darimana asal muasal pohon ini? belum ditemukan sumber pasti, namun kemungkinan sengaja ditanam oleh seseorang untuk obat.

Mbah Kontar akhirnya menetap disebelah utara makam desa sekarang tak jauh dari area tanaman poko. Dari nama tanaman obat inilah Pedukuhan ini dinamakan Poko.

Dukuh Cerme

Padukuhan ini dilintasi sungai Bodri disebelah timur. Tempat ini menjadi persinggahan beberapa tokoh, pendekar yang dalam perjalanan, karena posisi sungai Bodri yang masyhur. Dulu letak sungai Bodri tidak seperti sekarang ini. Dari Juwero mengalir ke timur Desa Pekuncen memutar ke Barat lalu ke Utara. Bekasnya masih terlihat yang sekarang dinamakan Kali Tempuran.

Nama Cerme menurut cerita tutur berasal dari kata Careme yang berarti tempat pertempuran. Seperti disinggung diawal, tempat ini menjadi tempat persinggahan para musafir, terutama tokoh-tokoh besar, para pendekar, Ulama. Maka tak heran di Padukuhan Cerme terdapat banyak Makam tua sebagai makam Tokoh yang gugur ditempat ini. Yang kadang tidak diketahui namanya.

Sumber kedua mengatakan Cerme berasal dari kalimat “ancer-ancere rame” artinya tempat keramaian. Menurut para sesepuh setiap kali ada hajatan yang sifatnya mengudang keramaian massa, maka Mbah Kontar menempatkannya di Dukuh Cerme, hal ini bisa dimaklumi karena Mbah Kontar memang tidak menyukai keramaian atau pesta. Oleh beliau Dukuh Poko dilarang keras mengadakan acara-acara keramaian.

Dukuh Proto

Nama Proto mempunyai makna Mulia atau utama. Masih menurut cerita tutur sesepuh, dulu waktu ada peraturan Kerajaan untuk membentuk satu wilayah setingkat desa, Dukuh Proto menolak hal ini dipicu oleh penolakan seorang tokoh sepuh Dukuh Proto dengan alasan mau bergabung dengan dusun Pakuncen yang saat itu belum diijinkan mendirikan Perkampungan resmi karena jumlah penduduknya belum memenuhi syarat.

Oleh Mbah Sokerto yang ditunjuk oleh Mbah Kontar sebagai Orang yang bertanggung jawab mengurusi Kampung, penolakan ini dianggap perlawanan. Terjadi adu kesaktian antara keduanya Namun dengan cara persuasif dilerai oleh Mbah Kontar.

Setelah beberapa tahun akhirnya Proto mau bergabung dengan Desa Cepoko (Gabungan dari dukuh Cerme dan Poko), maka namanya menjadi CEPOKOMULYO seperti sekarang ini.

Sumber: Buku Babad Desa Cepokomulyo _______Muhammad Yazid Cetakan Kedua 2017

Facebook Comments